Selasa, 03 Februari 2009

Bersabarlah saudaraku di Gaza

Hari-hari seperti ini. Lemparkanlah khayalan kita saat bersama ibu dan bapak. Isteri dan anak-anak. Di sebuah malam di bawah langit yang jernih. Saat kita semua ada dalam satu rumah. Tapi rumah kita itu, sudah tak lagi berpintu, dan tak mempunyai jendela. Tak ada air. Tak ada listrik..

Anak-anak kita menangis karena lapar dan dingin. Isteri kita juga begitu menderita karena sakit namun tak bisa membeli obat. Bukan hanya karena tak ada biaya untuk membelinya, tapi juga karena tak ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya. Orang tuamu, keduanya sudah renta dan ringkih. Juga tengah dililit lapar. Tubuh mereka sudah lemah dan penyakitnya kian hari terus bertambah.

Bayangkanlah diri kita dalam kondisi seperti ini. Tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, dan obat. Lalu, ketika kondisi begitu mendesak kita pun keluar rumah untuk mencari pertolongan bersama anak dan orang tua. Kita berjalan kaki menembus dinginnya malam, menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, engkau melihat pemandangan yang lebih mengiris hati. Karena ada ratusan orang yang sudah lebih dahulu tiba dan menanti pengobatan dari rumah sakit. Anak-anak, kaum perempuan, orang-orang tua. Mereka semuanya menunggu pengobatan. Tapi tak ada obat. Tidak ada sarana pengobatan, karena listrik sudah terputus dan mereka semua berada dalam gelap.

Saudaraku,

Inilah episode kepedihan yang sesungguhnya terjadi. Di Ghaza Palestina, yang telah diisolir secara keji oleh Israel selama lebih dari enam bulan. Inilah sebagian kecil pemandangan duka tentang kondisi masyarakat Muslim Ghaza. Padahal Allah swt befirman, “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan itu satu sama lain saling bantu membantu. ” Padahal Allah swt berfirman, “Sesungguhnya kaum Mukminin itu saudara... “ Padahal, Rasulullah saw mengingatkan kita, “Perumpamaan kaum Mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan antar mereka seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, niscaya akan sakit seluruh tubuhnya dan tidak dapat tidur. ”

Pemandangan duka yang terjadi di Palestina sesungguhnya mendobrak ingatan kita tentang kelalaian selama ini. Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina adalah kenyataan yang jelas tentang ketidakpedulian kita dengan kondisi saudara sesama Muslim di Palestina. Kita, mungkin ada yang termasuk dalam hadits Rasulullah saw, “tidak pernah memerah wajahnya karena marah” akibat penistaan yang dilakukan musuh-musuh Islam terhadap saudara-saudara Muslim. Kini, jumlah korban sudah mencapai angka ratusan orang. Dan sebagian besar mereka adalah para pasien yang sakit dan anak-anak!!

Saudaraku,

Israel telah kuasai 80% aliran listrik di Ghaza

Israel telah kuasai 100% air di Ghaza

Israel telah menguasai 70% bahan bakar di Ghaza...

Saudaraku, Ikhwanku,

Apa yang terjadi di Ghaza bukanlah isolasi, bukan pengepungan, bukan embargo. Tapi pembunuhan terhadap banyak orang yang lebih memilih hidup dengan harga diri dan kemuliaan. Yang dilakukan Israel adalah pembunuhan massal bagi orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan hidup mereka..

Ikhwanku, umat Islam

Lebih dari satu juta orang Muslim hidup di Ghaza. Mereka semuanya menghadapi pembantaian massal itu. Kenapa? Karena mereka ingin Islam menjadi aturan pemerintah mereka. Karena mereka tidak memilih sistem sekuler. Karena mereka ingin hidup mulia dan merdeka bersama Islam. Karena mereka memilih melawan menghadapi para penjajah. Karena mereka mengatakan, “Kami akan memerangi kalian wahai Zionis Israel dengan semua tulang belulang kami. Dengan seluruh janin yang ada di rahim ibu-ibu kami. Dengan seluruh jiwa yang udara ini. Dengan seluruh tetes darah dan semua aliran nafas kami.. “

Saudaraku, Ikhwanku...

Saudara-saudara kita di Ghaza hidup dengan penderitaan yang begitu menyakitkan. Lihatlah bagaimana kondisi masyarakat yang tercekik oleh tingginya harga bahan makanan pokok yang menjadi kebutuhan mereka sehari-hari. Lihatlah bagaimana banyak orang yang usahanya bangkrut. Bayangkanlah bagaiamana masyarakat selalu dihantui rasa takut. Bagaimana masyarakat yang merasakan seluruh hidupnya adalah kepahitan belaka. Upaya mencari nafkah menjadi pahit. Hidupnya menjadi pahit. Keluar rumah melihat kepahitan. Di dalam rumah mendapatkan kepahitan. Tidurnya dalam kepahitan. Bangunnya dalam kepahitan. Melihat kepahitan di mata anak-anak mereka dan orang tua mereka. Hingga kepahitan dalam matanya sendiri.

Saudaraku yang kucinta karena Allah,

Terhentinya 4000 pabrik di Ghaza. Tutupnya 3000 usaha di Ghaza benar-benar membuat kehidupan menjadi lumpuh. Tak ada lagi aktifitas ekonomi di sana. Kecuali hanya pemberian dan tukar menukar barang. Anda memberinya minyak, lalu yang diberi memberikan Anda tepung. Anda memberikan tepung, lalu yang diberi memberikan Anda telur. Begitu dominasi kenyataan hidup mereka.

Air di Ghaza, sudah terkena wabah penyakit. Bagaimanakah kondisi mereka karena air adalah kebutuhan manusia untuk bisa bertahan hidup? Tapi mereka memang benar-benar nyaris tak punya pilihan saudaraku...

Lebih dari 70% keluarga di Ghaza hidup di bawah kemiskinan. Di manakah organisasi HAM? Yang selama ini begitu konsentrasi membantu banyak manusia di Afrika dan aktif berbicara tentang kemiskinan dan kelaparan? Hari ini, kemiskinan, dan kelaparan terjadi di Palestina. Di samping Israel yang mengaku demokratis dan mengklaim di hadapan negara Barat sebagai contoh negara yang demokratis. Di manakah demokrasi, di saat banyak orang memilih pemerintahan Islam?

Ikhwanku...

Lebih dari 65 ribu pemuda Ghaza sudah putus dari bekerja. Tidak ada pabrik dan tempat usaha tempat mereka bekerja. Lebih dari 80% penghasilan kebun menjadi murah karena harga turun drastis. Para petani di Ghaza, bekerja menyirami kebun, memelihara tanaman mereka, dari pagi hingga mentari terbenarm. Lalu, saat mereka panen, dikatakan bahwa hasil panen mereka tidak bisa dijual kecuali hanya 20% saja. Sisanya terbuang begitu saja.

Jalan-jalan diblokade. Jembatan ditutup. Masyarakat hidup dalam kerugian yang terus menerus. Sejumlah pengamat menduga bahwa Ghaza di ambang krisis ekonomi paling parah dan krisis kemanusiaan sekaligus. Karena kekurangan obat, karena kekurangan pangan, karena tingginya bahan makanan, karena mereka dilarang untuk mencari alternatif di luar Ghaza..

Ikhwanku, saudaraku,

Ada lebih dari 450 orang pasien kanker di Ghaza. Lebih dari 400 orang menderita gagal ginjal. Lebih dari 450 orang mengalami sakit jantung. Mereka kini terancam meninggal karena tidak adanya pengobatan yang layak untuk menolong mereka. Terlebih dari itu, mereka tidak boleh keluar dari “kerangkeng” Ghaza. Israel telah melarang lebih dari 300 ribu orang yang meminta untuk keluar Ghaza untuk keperluan pendidikan. Kenapa? Karena mereka khawatir bila kelak orang-orang Palestina itu kembali ke negaranya menjadi tokoh dan pakar yang mampu mengatur permasalahan negaranya. Israel ingin Palestina dipenuhi oleh orang-orang bodoh dan terbelakang. Agar Ghaza hanya menjadi tempat buruh yang siap dipekerjakan dengan menggantungkan diri pada pihak lain, penjajah Israel.

Yaa Allah... Yang Maha Pengasih. Kasihilah penduduk Ghaza.. Kasihilah anak-anak mereka yang masih menyusui. Kasihilah orang-orang tua mereka yang sudah renta. Kasihilah semua pejuang-Mu di Ghaza...

Saudaraku, Ikhwanku yang dikasihi Allah...

Dalam laporan NCRP Amerika yang berbasis di Washington disebutkan bahwa besar bantuan sosial tahun 1998 adalah 175 milyar dolar. Ada 44% dari angka tersebut dialirkan untuk mendukung gereja, proyek penyebaran agama Kristen, dan berbagai lembaga agama lain seperti Yahudi. Lihatlah, jumlah 44% itu hampir sama dengan 70 juta dolar. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa donatur-donatur besar itu berasal dari orang per orang, lembaga dan institusi. Khusus lembaga dan institusi, disebutkan menyumbang sekitar 27 milyar dollar. Itu laporan di tahun 1998.

Tahukah kita bahwa lebih dari 37600 situs internet adalah milik Institusi Yahudi yang didukung oleh dana bantuan hanya dari Amerika saja? Bayangkanlah apa yang diterima oleh Paus dan gereja Katholik di Roma. Vatikan seperti sudah maklum memiliki pesawat khusus. Kapal pesiar khusus. Bahkan pasukan khusus yang bisa dikatakan sebagai negara dalam negara di Italia.

Sabarlah wahai penduduk Ghaza...

Sabarlah wahai saudaraku di Palestina..

Sungguh meski mereka menentang dan memerangimu dengan segala cara

Meski mereka menghalangi obat, makanan dan air dari kalian

Tapi kalian takkan pernahy terkalahkan

Bersama kalian ada Yang Maha Kuat Yang Tak Mungkin Terkalahkan

Saudaraku, ikhwanku..

Apa yang bisa kita katakan untuk bencana seperti ini???

Saudaramu, Ikwan di Indonesia

“Allahummar zuqna syahadata fi sabiilik”

(M. Lili Nur Aulia)

Sumber: Eramuslim
Penulis: M. Lili Nur Aulia

Jalan Da'wah Merupakan Undangan Ke Surga

Jalan yang diserukan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan jalan lurus yang tunggal. Ia menghantarkan setiap orang yang mau mengikutinya menuju keselamatan dunia dan akhirat. Namun di sepanjang jalan tersebut terdapat percabangan yang sangat banyak. Setiap percabangan menawarkan berbagai janji yang seringkali sangat meyakinkan padahal semuanya menyesatkan siapapun yang mau mengikutinya. Demikianlah Allah ta’aala firmankan di dalam Al-Qur’an:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”…dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah ta’aala kepadamu agar kamu bertakwa”. (QS Al-An’aam ayat 153)

Jalan Da’wah Islam merupakan Undangan ke Surga. Sebab ujung akhir dari perjalanan manusia yang meniti jalan ini ialah keridhaan Allah ta’aala dan kenikmatan surga yang kekal-abadi. Namun untuk mencapai surga seseorang harus mempersiapkan diri untuk menempuh jalan mendaki, bukan jalan mulus yang meluncur ke bawah. Jalan Da’wah Islam penuh dengan hal-hal yang seringkali tidak sesuai dengan hawa-nafsu manusia. Sebab segala sesuatu yang memperturutkan syahwat manusia umumnya menghantarkan seseorang ke jurang neraka yang mengerikan.

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ أَرْسَلَ جِبْرِيلَ إِلَى الْجَنَّةِ فَقَالَ انْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا قَالَ فَجَاءَهَا وَنَظَرَ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ لِأَهْلِهَا فِيهَا قَالَ فَرَجَعَ إِلَيْهِ قَالَ فَوَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَانْظُرْ إِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا قَالَ فَرَجَعَ إِلَيْهَا فَإِذَا هِيَ قَدْ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خِفْتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ قَالَ اذْهَبْ إِلَى النَّارِ فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا فَإِذَا هِيَ يَرْكَبُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلَهَا فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَرَجَعَ إِلَيْهَا فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَنْجُوَ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Ketika Allah ta’aala menciptakan surga dan neraka, diutuslah Jibril ke surga dan dikatakan kepadanya: “Lihatlah surga dan apa-apa yang telah kusiapkan di dalamnya untuk penghuninya.” Maka Jibril pergi melihatnya dan apa-apa yang telah disiapkan di dalamnya untuk penghuninya. Jibril-pun kembali menemui Allah ta’aala dan berkata: ”Demi keagunganMu tidak ada seorangpun yang mendengar tentang surga kecuali pasti ingin memasukinya.” Lalu Allah ta’aala lapisi surga dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kemudian Jibril disuruh melihatnya dan apa-apa yang telah disiapkan padanya untuk penghuninya. Setelah melihatnya Jibril kembali kepada Allah ta’aala dan berkata: ”Demi keagunganMu sungguh aku khawatir tidak seorangpun akan memasukinya.” Kemudian Allah ta’aala perintahkan Jibril: ”Lihatlah neraka dan apa-apa yang telah kusiapkan di dalamnya untuk penghuninya.” Setelah melihatnya Jibril berkata: ”Demi keagunganMu tidak ada seorangpun yang mendengar tentang neraka kecuali pasti tidak ingin memasukinya.” Lalu Allah ta’aala lapisi neraka dengan hal-hal yang menyenangkan (syahwat). Kemudian Jibril disuruh melihatnya dan apa-apa yang telah disiapkan padanya untuk penghuninya. Setelah melihatnya Jibril kembali kepada Allah ta’aala dan berkata: ”Demi keagunganMu sungguh aku khawatir tidak seorangpun kecuali pasti akan memasukinya.” (HR Tirmidzy 2483)

Dunia inilah tempat dimana kedua pelapis tersebut dibentangkan Allah ta’aala. Dunia sarat dengan kesenangan yang menipu. Begitu pula sebaliknya. Dunia merupakan tempat yang sarat dengan penderitaan yang menipu. Orang beriman sangat faham tabiat dunia yang penuh tipuan. Sehingga dirinya tidak akan sibuk mengejar berbagai kesenangan dunia karena khawatir itu semua hanya akan berujung ke neraka. Demikian pula seorang beriman sabar menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia karena ia berharap itu semua merupakan jalan menuju pintu surga.

Jalan Da’wah Islam merupakan undangan ke surga. Barangsiapa yang ingin menempuh jalan ini maka selayaknya ia menyatakan sejak hari pertama bahwa dirinya siap berpisah dengan berbagai kesenangan syahwat. Hendaknya ia menyatakan sejak hari pertama bahwa dirinya siap menghadapi berbagai hal yang tidak menyenangkan. Alangkah ironisnya bilamana dijumpai seorang yang mengaku menempuh jalan da’wah namun hidupnya bergelimang kemewahan dunia. Bukan berarti Islam mengharamkannya. Namun seorang aktifis da’wah sejati akan jauh lebih mengutamakan kesenangan akhirat yang kekal-abadi daripada bersibuk diri dengan kesenangan menipu dunia fana ini.

Lihatlah teladan kita Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Suatu hari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mendapati pada punggung Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ada bekas tikar yang menjadi tempat ia membaringkan tubuh mulianya. Berkata Umar: ”Ya Rasulullah, mengapa engkau menyusahkan dirimu dengan cara seperti ini? Sungguh, engkau adalah utusan Allah ta'ala. Engkau lebih berhak memiliki istana seperti milik Kisra dari Persia dan Kaisar Romawi.” Apa jawab beliau? Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Wahai Umar, Kisra dari Persia dan Kaisar Romawi hanya dijanjikan kesenangan di dunia. Tidakkah engkau senang memperoleh janji Allah ta’aala berupa kesenangan abadi di surga?”

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

”Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah ta’aala yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki." Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS Az-Zumar 73-74)

Nulis Yuk!

Manfaat Menjadi Penulis:
1. Kalo kamu sedang sedih atau bahagia bisa atau sedang diusilin orang, bisa diungkapin melalui tulisan.Nah, pikiranmu akan menjadi plong setelah melampiaskan apa yang kamu rasa.
2. Dikenal banyak orang.
Kalo kamu sering nulis di media lokal apalagi nasional, siap-siap untuk jadi terkenal. Walaupun tujuan kita sebenarnya bukanlah untuk itu (dakwah bil qolam). Terkenal itu adalah "efek sampingnya". Kaji manurun kecek urang awak.He2
3. Sering diundang untuk jadi pembicara
Ini neh yang bikin kita melonjak tinggi ke langit( wah, kalo gak balik2 lg ke bumi gimana ya?) Jadi pembicara dan memberikan materi pelatihan yang dihadiri oleh banyak orang tentu hal yang membanggakan bukan?
4. Dapet honor
Kalo karya kita dimuat di media, siap-siap untuk mendapatkan honor. Bisa dipakai buat bayar hutang, bayar uang kos, beli pulsa, dan kawan-kawannya.Tapi, kalo mau mengikhlaskan untuk media juga gak apa-apa.He2
5. Ladang amal
Ini neh yang paling penting. Karya yang baik adalah karya yang mencerahkan ummat (meminjam dari mbak helvi) Jangan sembarang berkarya, sisipkan sihirmu dalam setiap tulisanmu untuk menyesatkan orang ke jalan yang lurus. Gak hanya Harry Potter aja yang bisa nyihir. Kita juga bisa. Bisa ngajak orang kepada kebaikan pahalanya gak terbayang lho. Lebih tinggi nilainya dari dunia dan seisinya. Subhanallah!
6. Bisa nyenengin ortu
Kalo kita udah bisa hidup dari menulis, maka ortu kitapun akan senang. Tambah lagi pahalanya kan?Kalo udah mandiri, nikah secepatnya!!(upss)
7. Banyak dapat teman
Kita bakalan punya teman banyak jika kita bergabung dengan komunitas penulis yang ada.
8. Kebiasaan menulis adalah kebiasaan para ulama, salafussalih.
Ternyata ulama zaman dulu, dan para salafussalih juga menulis lho. Sayyid Qutub menulis kitab fenomenalnya yang berjudul Fi Zhilalil Qur'an di dalam penjara. Dan tahukah, karyanya tersebut bisa menginspirasi ummat Islam untuk bangkit. Kamu juga bisa. Banyak tempat untuk bisa nulis. Di atas pohon( jadi tarzan donk?.He2), di tepi pantai, di kampus, di loteng rumah(kayak anggota FLP Hongkong), di atap kalo lagi gak hujan, di dalam oplet kalo lagi gak bising (kapan ya?), di kapal selam, di pesawat, di helikopter, di dalam air. He2, jadi ngaco deh.
9. Ngisi waktu dengan hal2 yg positif
Tahukah, bahwa dengan menulis kita akan semakin cerdas. Selain itu kita bisa merasakan apa apa yang dirasakan orang lain atau bahasa kerennya empathy.
10. Dan masih buanyak lagi manfaat dari menulis. So, menulislah mulai dari sekarang, minimal menuliskan catatan hutang orang lain pada kamu.